Skip to content

Perilaku Seks Bebas Remaja Jambi Mengkhawatirkan

13/12/2011

Perilaku seks bebas di kalangan remaja di Kota Jambi cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Yayasan Prisma terhadap 118 siswa di Kota Jambi pada awal dan akhir tahun 2011, ternyata sebagian besar mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks pada usia 13 hingga 15 tahun.
Direktur Yayasan Prisma Endang Kusmawardhani mengungkapkan, perilaku seks pranikah di kalangan remaja ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Yakni, dilatarbelakangi kebutuhan ekonomi 19 kasus, diperkosa tujuh kasus, dilakukan oleh pacar enam kasus dan ikut-ikutan teman satu kasus. Dari 118 siswa yang menjadi responden, menurut Endang, 48 di antaranya mengaku pertama kali melakukan hubungan seks karena suka sama suka dan karena paksaan. Statusnya pelakunya juga beragam, di antaranya dilakukan oleh teman sebanyak 23 kasus, pacar lima kasus, suami istri atau orang tua 10 kasus, tidak saling kenal enam kasus, paman dua kasus dan orang tua atau saudara satu kasus.
Ironisnya, menurut Endang, pengalaman melakukan hubungan seks pertama kali tersebut membuat sebagian responden mengaku ketagihan mengulanginya. “Mereka berpikir kepalang basah atau rusak, akhirnya melakukan eksploitasi seksual,” ujarnya.
Menurut Endang, masalah ini perlu menjadi perhatian serius bagi orang tua. Terutama terhadap lingkungan pergaulan anak. “Berdasarkan survei yang kita lakukan, ternyata teman permainan (pergaulan) menjadi salah satu awal anak melakukan hubungan seks pra nikah,” katanya.
Dia juga mengungkapkan, eksploitasi seksual terhadap anak terdiri dari bebarapa motif. Dari 118 responden yang disurvei, 40 orang karena ketagihan (pelampiasan nafsu), 32 orang karena motif ekonomi, 10 orang pernikahan dini, dan tiga orang karena human trafficking (dijual).
Endang mengungkapkan, motif ekonomi termasuk menjadi motif utama remaja melakukan hubungan seks pra nikah. Ini dipengaruhi oleh tuntutan ekonomi dan gaya hidup remaja 12 hingga 18 tahun saat ini. Apalagi adanya tuntutan perilaku konsumtif pada anak-anak remaja.
Ketika ditanyakan bagaimana dengan angka eksploitasi seksual se-Provinsi Jambi? Wanita berjilbab ini mengakui bisa jadi jauh lebih besar. Apalagi 118 sampel anak yang diambil dari sekolah-sekolah se-Kota Jambi itu kecil dibandingkan dengan jumlah anak-anak usia itu. “Ini fenomena yang mengejutkan kita, karena itu penanggulangan dan pencegahan merupakan tugas pemerintah, keluarga dan tugas bersama,” tandasnya.
Terpisah, Psikolog Ridwan SPsi CHt mengakui, tingginya perilaku seks pra nikah di kalangan remaja merupakan sebuah fenomena yang perlu menjadi perhatian serius. Masalah ekonomi, diakuinya, menjadi latar belakng klasik yang menuntut berbagai kebutuhan konsumtif maupun life style.
“Fenomena ini akibat pengaruh dan dorongan konsumtif. Selain itu pergaulan juga sangat mempengaruhi. Saat ini, seorang remaja merasa malu diberi cap atau label tidak mengikuti style. Termasuk tidak punya pacar. Itu tuntutan psikologis,” terangnya.
Lalu, remaja yang melakukan seks pra nikah karena suka sama suka atau melalui paksaan, menurut Ridwan, bisa mempengarugi psikologis. Mereka akan mengalami frustasi yang berujung perasaan benci atau dendam. Selanjutnya korban akan mengulangi lagi perbuatannya untuk melampiaskan dendamnya kepada yang lainnya.
Selain itu, mereka bisa juga menemukan kenikmatan. Dengan demikian, akan mengulangi lagi perbuatan tersebut. “Nah, ketikaa ada kesempatan dan peluang, hal itu mereka lakukan lagi karena tuntutan ekonomi,” terangnya.
Ridwan mengatakan, tingginya perilaku seks bebas di kalangan remaja ini juga diperparah oleh sikap para orang tua yang mulai cenderung longgar melakukan pengawasan. Kondisi ini diperparah lagi dengan angapan bahwa anak-anak pacaran adalah hal yang bisa saja. “Padahal, kebebasan berpacaran membuka peluang remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan tersebut,” tambahnya.
Sebagai solusi, Ridwan mengimbau kepada para orang agar meberikan pendidian seks yang benar sejak dini kepada anak-anak. “Pendidikan dan pemahaman dari keluarga dengan melakukan komunikasi yang baik cukup efektif untuk mencegah perilaku seks pra nikah pada remaja,” katanya.
Sebelumnya, DKT (Darmendra Kumar Tiagi) Indonesia melansir hasil survei jika 462 dari 663 responden (69,6 %) mengaku pernah berhubungan seks pranikah di usia 19 tahun. Celakanya, yang membuat paling menyesal setelah berhubungan seks adalah takut hamil (38 %), bukan takut dosa (4 %).
Sexual Psychologist dari Universitas Indonesia Zoya Amirin menjelaskan, dengan gambaran tadi peran orang tua cukup penting untuk menjaga kesehatan seksual anak-anak. Terutama ketika anak menginjak dewasa.
Para orang tua, tegas Zoya, harus bertindak bijak ketika sang anak mulai bertanya yang aneh-aneh soal seks. Misalnya, anak cowok bertanya kenapa kok setiap pagi penisnya selalu berdiri, atau anak cewek menanyakan tentang haid. “Sayangnya, banyak kasus para orang tua salah menyikapi jika anak-anak mulai bertanya tentang seks,” tukas Zoya.
Dia menuturkan, kesalahan orang tua yang paling fatal adalah cepat menuduh telah berhubungan intim ketika si anak bertanya tentang seks. “Ayo kamu sudah berhubungan seks ya. Atau kamu mau berhubungan seks, kok tanya-tanya itu,” tutur Zoya. Seharusnya, orang tua ketika menerima pertanyaan tentang seks dari anak-anaknya, harus menjelaskan secara jelas dan lugas.
Menurutnya, pendidikan yang ada di sekolah baik itu yang berkaitan dengan ilmu biologi atau keagamaan sudah kurang kuat lagi untuk membendung potensi hubungan seks pranikah. Terbukti dengan bentuk penyesalan setelah berhubungan yang tertinggi bukan karena takut dosa. Tetali penyesalan muncul karena takut hamil. Ketika beberapa waktu setelah hubungan tidak hamil, hubungan seks pranikah berpeluang diulangi lagi.
Pesan Zoya kepada orang tua untuk mengedukasi anak-anaknya di antaranya adalah, mewanti-wanti kepada anak laki-laki yang sudah mimpi basah (wet dream). Wejangan bisa berbentuk imbauan jika anak laki-laki yang sudah mimpi basah itu bisa menghamili anak perempuan. Sebaliknya, untuk anak perempuan yang sudah haid, juga harus diberi wejangan. Di antaranya, jika tidak hati-hati dalam bergaul, karena bisa dihamili teman laki-laki.(*)

sumber: jambi-independent.co.id

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: