Skip to content

Kaltim Minta Bagi Hasil Migas 70 Persen, Jambi???

07/12/2011

Kalimantan Timur (Kaltim) telah menyerahkan kembali revisi gugatan uji materiil (judicial review/JR) UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tak seperti gugatan sebelumnya, dalam berkas 63 halaman yang diserahkan Rabu (2/11) kemarin, kesembilan pemohon dengan tegas meminta penambahan porsi bagi hasil minyak dan gas menjadi 70 persen untuk daerah dan 30 pemerintah pusat.

Angka yang diminta tersebut jauh lebih tinggi dibanding aturan yang berlaku saat ini sesuai Pasal 14 huruf e dan f UU No 33. Pasal ini menyebutkan bahwa bagi hasil minyak adalah sebesar 84,5 persen untuk pemerintah pusat, dan 15,5 persen untuk pemerintah daerah. Sedangkan bagi hasil gas bumi sebesar 69,5 persen (pusat) dan porsi daerah sebesar 30,5 persen. Isi pasal inilah yang jadi persoalan mendasar hingga masyarakat Kaltim berani menggugat ke MK karena dinilai bertentangan dengan konstitusi, serta keadilan jika dibandingkan sebagai daerah penghasil migas.

“Angka itu sesuai prosentase bagi hasil migas yang diterima Aceh dan Papua,” jelas Muspani, pengacara yang ditunjuk Majelis Rakyat Kalimantan Timur Bersatu (MRKTB) serta 8 pemohon lain saat dihubungi Jumat (4/11).Aceh kebagian lebih besar karena memiliki UU khusus yakni No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, sementara  UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua. Atau keduanya tak diatur UU No 33, padahal sama dengan Kaltim dan belasan provinsi lain sebagai daerah penghasil migas.

Aceh dan Papua dijadikan pembanding, lanjut Muspani, karena berdasar kajian tim tak ada aturan atau UU lain yang bisa dijadikan pembanding dalam soal kenapa kedua daerah tersebut menerima porsi bagi hasil lebih besar, sedangkan provinsi lain harus mengacu Pasal 14 huruf e dan f UU No 33.

“Pembandingnya Aceh dan Papua sebab sampai sekarang belum ada hitungan bagi hasil migas yang jelas secara nasional,” tambah mantan anggota DPD pemilihan Bengkulu ini.

Permintaan 70 persen, tegas dia, tentu bisa dibuktikan secara yuridis, ekonomi, dan sosial. Diantaranya dengan mendatangkan 8 saksi diantaranya ahli lingkungan dan tata negara. Termasuk pula data dari Departemen Keuangan, BPS, sampai Bappeda Kaltim. Data dari ketiga lembaga diharapkan bisa memaparkan dan menjelaskan segala kondisi Kaltim sebenarnya serta berapa besaran dana yang diterima dibanding dengan kebutuhan ideal sebagai daerah yang terus membangun serta berbatasan langsung dengan Malaysia.

Untuk menunjukan adanya ketimpangan pembangunan di perbatasan, kata Muspani, pihaknya menambah satu pemohon yang merupakan masyarakat kecamatan Krayan, Nunukan. Elia Yusuf merupakan petani warga Desa Ba”liku, Krayan Selatan. Menurut pemohon, Elia adalah potret ketidakadilan pembangunan di Kaltim sebagai akibat terbatasnya dana pembangunan dari pusat.

Pemohon baru lain adalah Jubaidah. Dia adalah nelayan wanita asal Jl Sungai Buaya RT 10 Desa Bunyu Barat Kecamatan Bunyu, Bulungan. Sejak puluhan tahun, Jubaidah tak merasa diuntungkan dengan keberadaan eksplorasi migas, batubara serta keberadaan kilang methanol di daerahnya.

Secara lengkap, pemohon pertama adalah MRKTB, pemohon selanjutnya Sundy Ingan, Kepala Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar) dan petani asal Desa Badak Baru, Muara Badak (Kukar) bernama Andu. Selanjutnya Elia, Jubaidah sedangkan pemohon keenam sampai kesembilan adalah 4 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI pemilihan Kaltim.

Sesuai saran hakim pada persidangan perdana Rabu (19/10), tim penasihat hukum mengubah redaksional keempatnya menjadi warga Kaltim yang menjabat sebagai anggota DPD. Sesuai fungsinya mereka tahu dan sering mendapat keluhan dari masyarakat di Kaltim amupun yang datang ke Jakarta terkait persoalan belum dapatnya masyarakat menikmati kekayaan alamnya secara adil. Disebutkan Muspani, diperkirakan persidangan JR akan dilanjutkan pertengahan pekan depan. (pra/jpnn)

Sumber: jpnn.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: