Skip to content

Tips Membuka Bisnis Toko Baju

06/12/2011

Pertanyaan: Saya berencana membuka toko pakaian disalah satu ITC di daerah Jakarta, pangsa pasarnya adalah remaja, dengan perencanaan modal sebagai berikut:

Sewa tempat 25 juta/tahun
Estalase Rp 5 juta
Modal stock pakaian Rp 7 juta
Lain-lain Rp 1 juta
Biaya listrik 150 ribu/bln
Biaya perawatan gedung 325 ribu/bln
Gaji karyawan 700 ribu/bln
Total investasi sekitar Rp 39 juta.

Yang kami tanyakan adalah sebagai berikut:
Apakah bisnis pakaian dengan perhitungan diatas layak? jika dilihat dari pangsa pasarnya. jangka waktu berapa balik modal?

Jawaban:

Rincian:
Modal

Sewa Tempat Rp 25.000.000
Baju Rp 7.000.000
Etalase Rp 5.000.000
Lain-lain Rp 1.000.000
Total Rp 38.000.000

Biaya Operasional

Listrik Rp 150.000 (bln), Rp 1.800.000 (thn)
Gaji Karyawan Rp 700.000 (bln), Rp 8.400.000 (thn)
Perawatan Gedung Rp 325.000 (bln), Rp 3.900.000 (thn)
Total Rp 1.175.000 (bln), Rp 14.100.000 (thn).

Pangsa pasar untuk usaha penjualan pakaian terbuka luas mengingat ini adalah salah satu dari kebutuhan pokok manusia. Namun kita juga harus memahami bahwa pesaing dalam jenis usaha ini juga tidak sedikit. Oleh karena itu kita harus memiliki strategi bisnis yang handal untuk menjalankan usaha ini. Strategi yang dimaksud bisa berupa penentuan harga dibanding pesaing, jenis produk, aneka produk, segmentasi pasar, sistim pemasaran dan lain-lain.

Mengkaji informasi yang Anda berikan, tampaknya Ceruk Pasar yang dipilih adalah Remaja. Tentunya ini menjadi dasar bagi Anda untuk menentukan apa produk yang sesuai, model yang sedang tren, harga yang terjangkau, bagaimana melakukan promosinya, dan sebagainya. Itu semua adalah sebagian dari faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah usaha bisa dinilai layak untuk dijalankan atau tidak.

Walaupun hal tersebut di atas sudah dipikirkan dengan matang dan terencana, kita tetap harus mempertimbangkan faktor resiko jika bisnis tidak berjalan sesuai rencana. Untuk itu salah satu cara adalah dengan menghitung dampak finansial yang mungkin timbul akibat kegagalan tersebut.

Dari jumlah modal yang dianggarkan maka sebenarnya hanya biaya lain-lain yang akan menjadi uang hangus. Sedangkan jenis biaya lainnya seperti sewa tempat, belanja pakaian dan etalase bisa dialihkan ke pihak lain dengan harga miring sehingga tidak hilang atau hangus sama sekali.

Misalnya jenis biaya tersebut ‘dilepas’ dengan nilai 70% maka kita tetap punya Uang sejumlah Rp 25 juta. Tentunya metode penghitungan ini harus menyertakan faktor jangka waktu kapan saat harus melikuidasi. Sedangkan untuk biaya operasional maka nilai per bulan tidaklah terlalu besar sehingga ini bisa dijadikan batas minimum untuk menghitung berapa minimum penjualan yang harus tercapai.

Menganalisa dampak risiko dan potensi pasar dari usaha ini secara sederhana maka tampaknya usaha ini cukup layak untuk dipertimbangkan menjadi salah satu bentuk investasi real. Penghitungan break event point akan sangat tergantung kepada proyeksi penjualan yang bisa diperoleh setiap bulan.

Survei pasar dan pengalaman akan menjadi bagian penting dalam penyusunan Proyeksi Keuangan. Untuk itu lakukan pengamatan yang komprehensif atas kondisi pesaing dan segmen pasar Anda, serta dapatkanlah pengalaman baik melakukannya secara langsung atau membelinya atau mempekerjakannya. Selamat berbisnis dan Sukses Selalu.

Jawaban dari :
Konsultan
Profil Aidil Akbar
Aidil Akbar Madjid, MBA, CFE®, CFP®, RFC®
Wealth Planner™,
Pakar Ekonomi Mikro & Keluarga
Chairman, IARFC Indonesia (qom/qom)

sumber: http://finance.detik.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: